Beranda / DAERAH / Dari WAG Memanas, Suara Meunasah hingga Gerakan Jemput Pemilih: Cerita Unik di Balik Suksesnya Pilchiksung Serentak Lhokseumawe 2026

Dari WAG Memanas, Suara Meunasah hingga Gerakan Jemput Pemilih: Cerita Unik di Balik Suksesnya Pilchiksung Serentak Lhokseumawe 2026

Bagikan ke :

HabaTerkini.com, LHOKSEUMAWE — Pemilihan Keuchik Langsung (Pilchiksung) Serentak Tahun 2026 di 47 gampong Kota Lhokseumawe tidak hanya menyisakan kisah kemenangan para calon, tetapi juga drama perjuangan yang luar biasa di balik layar. Seluruh gampong peserta akhirnya berhasil melampaui target syarat kuorum partisipasi pemilih 50 persen plus satu, sebuah pencapaian yang sempat diwarnai kepanikan, ketegangan, hingga aksi jemput bola ke rumah-rumah warga.

WAG Pj Keuchik Sempat Memanas

Kekhawatiran meledak beberapa hari sebelum hari H pemungutan suara. Beredarnya pemberitaan media mengenai konsekuensi jatuhnya angka partisipasi di bawah 50 persen plus satu membuat grup WhatsApp (WAG) para Penjabat (Pj) Keuchik memanas. Banyak yang mempertanyakan kebenaran isu pencopotan jabatan Pj Keuchik dan evaluasi total aparatur desa jika target tersebut gagal dipenuhi.

Merespons perdebatan tersebut, Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) Kota Lhokseumawe, Safriadi, S.STP., M.S.M., langsung meluruskan situasi. Ia menegaskan aturan ini bukanlah kejutan baru melainkan indikator kesuksesan tugas utama seorang Pj Keuchik.

“Hal ini tidak usah terkejut karena sudah pernah disampaikan oleh Pak Sekda pada saat deklarasi damai. Salah satu tugas Pj. Keuchik adalah menyukseskan pemilihan keuchik. Kalau tidak terpenuhi 50 persen plus satu, berarti pemilihan dinyatakan gagal. Kalau gagal, sangat wajar Pj. Keuchik dievaluasi, begitu juga aparatur yang bertugas membantu,” tegas Safriadi.

Pesan tegas tersebut menjadi alarm bagi para Pj Keuchik. Melalui Surat Edaran Nomor 100.3.4.4/01 tanggal 16 September 2026, DPMG menginstruksikan seluruh aparatur desa bergerak cepat dan netral, tanpa mengarahkan pilihan pada calon tertentu.

Dari WAG Berpindah ke Pengeras Suara Meunasah

Usai instruksi itu keluar, atmosfer di akar rumput berubah drastis. Isu yang semula hanya ramai diperdebatkan di layar ponsel pintar para pejabat desa kini bergema langsung di tempat ibadah.

Pengeras suara meunasah, masjid, mushalla, hingga balai pengajian di berbagai pelosok desa mulai intens mengumumkan imbauan memilih. Tokoh pemuda, tokoh perempuan, Tuha Peut, hingga Imuem Meunasah dikerahkan secara masif untuk mengetuk kesadaran warga agar bersedia meluangkan waktu datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Blang Crum Bergerak Dipicu ‘Gertakan’ Bahasa Aceh

Cerita unik datang dari Gampong Blang Crum. Tokoh masyarakat setempat, Harris, bersama seorang pengusaha lokal, H. Saidi, sempat panik dan mencoba “bernegosiasi” dengan Plt Kaban DPMG. Mereka meminta garansi jika Pj Keuchik mereka dicopot, penggantinya harus tetap putra daerah Blang Crum.

Namun, jawaban Safriadi menggunakan bahasa Aceh justru menjadi pemicu adrenalin para tokoh untuk bergerak total.

“Betoi-betoi nyoe. Meseu hana trok 50%+1 di Blang Crum, batak Kristen takirim keu Pj. Keuchik Blang Crum.” (Ini benar-benar nyata. Kalau tidak sampai 50 persen plus satu di Blang Crum, orang Batak Kristen yang akan kita kirim sebagai Pj Keuchik Blang Crum).

Seloroh bernada gertakan tegas itu membakar semangat para tokoh. Hasilnya luar biasa; lewat pengumuman masif dan komunikasi personal, angka partisipasi di Blang Crum sudah sukses melewati ambang batas 50 persen plus satu sebelum waktu siang hari.

Drama 35 Orang di Hagu Selatan

Kisah yang lebih menegangkan terjadi di Gampong Hagu Selatan. Menjelang detik-detik penutupan TPS, keputusasaan sempat melanda Panitia Pemilihan Keuchik (P2K) dan aparatur gampong karena mereka masih kekurangan 35 pemilih untuk mencapai target kuorum.

Di saat genting tersebut, Plt Kepala DPMG Safriadi datang langsung memantau TPS Hagu Selatan dan membakar kembali semangat petugas yang mulai pesimis.

“Jangan berpikir kalau tinggal 35 orang kemudian dianggap tidak masalah. Kurang satu orang saja, ketentuannya tetap tidak terpenuhi,” ujar Safriadi mengingatkan.

Aksi konkret pun dilakukan. Safriadi bahkan meminjamkan mobil dinasnya untuk dipakai menjemput warga ke rumah-rumah mereka. Aparatur desa, tokoh pemuda, dan tokoh perempuan kompak bergerak door-to-door, menelepon warga yang belum hadir, hingga mengantarkan mereka langsung ke TPS. Perjuangan menit-menit terakhir ini membuahkan hasil manis, Hagu Selatan lolos dari jerat kegagalan pemilu desa.

Komitmen Bersama Lahirkan Sukses Mutlak

Pada akhirnya, ketegasan regulasi yang dibarengi kelincahan respons di lapangan terbukti sukses. Dinamika WAG yang sempat memanas bertransformasi menjadi sebuah gerakan sosial yang masif.

Hingga pleno rekapitulasi ditutup, seluruh 47 gampong di Lhokseumawe dinyatakan sukses menggelar Pilchiksung Serentak 2026 secara sah demi hukum karena berhasil melampaui angka partisipasi 50 persen plus satu. Kekhawatiran telah berubah menjadi gerakan nyata, dan gerakan tersebut melahirkan legitimasi demokrasi tingkat desa yang kuat.(Htc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *