Beranda / DAERAH / UNHCR dan IOM Dinilai Abai, Pembangunan Shelter Pengungsi Rohingya di Lhokseumawe Belum Jelas

UNHCR dan IOM Dinilai Abai, Pembangunan Shelter Pengungsi Rohingya di Lhokseumawe Belum Jelas

Bagikan ke :

Habaterkini.com – Lhokseumawe, Sebanyak 92 pengungsi etnis Rohingya di Kota Lhokseumawe, Aceh, hingga kini masih menanti kepastian pembangunan shelter permanen yang sebelumnya dijanjikan oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan International Organization for Migration (IOM).

Keterlambatan realisasi pembangunan tersebut memicu sorotan dari Pimpinan Dayah Zurriyatul Qurani Al-Ma’arif (ZQA) Gampong Masjid Punteuet, Kecamatan Blang Mangat, Tgk Sulaiman Lhok Weng. Ia mempertanyakan komitmen dua lembaga internasional itu, mengingat target penyelesaian shelter disebut-sebut pada awal Desember 2025, namun hingga kini belum ada tanda-tanda dimulainya pembangunan.

“Targetnya awal Desember 2025 shelter sudah selesai dibangun. Namun sampai sekarang belum terlihat adanya aktivitas pembangunan di lokasi,” kata Tgk Sulaiman, pada Selasa (20/1).

Ia menjelaskan, pihak pesantren melalui Yayasan Zurriyatul Qurani Al-Ma’arif telah menyediakan lahan kosong seluas sekitar dua hektar yang dipinjamkan secara cuma-cuma untuk pembangunan shelter pengungsi Rohingya. Lahan tersebut berlokasi di Gampong Masjid Punteuet, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Lhokseumawe juga telah mengambil langkah administratif dengan menyurati UNHCR dan IOM agar memfasilitasi pemindahan para pengungsi ke lokasi tersebut paling lambat pada 15 Desember 2025. Namun hingga kini, kepastian terkait jadwal dan realisasi pembangunan shelter masih belum mendapatkan kejelasan.

Pimpinan Dayah Zurriyatul Qurani Al-Ma’arif (ZQA) Tgk. Sulaiman Lhok Weng bersama Asisten I Setdako Lhokseumawe M. Maxsalmina, dan Koordinator MER-C Aceh, Ira Hadiati saat meninjau pembangunan klinik kesehatan untuk pengungsi Rohingya pada November 2025 lalu.

Ironisnya, sejumlah lembaga kemanusiaan lain justru telah menunjukkan komitmen nyata. Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) saat ini hampir merampungkan pembangunan klinik kesehatan di lokasi tersebut dengan progres mencapai sekitar 90 persen. Sementara itu, Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia (YKMI) juga telah membangun fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) dengan capaian progres serupa.

Selain itu, Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia menyatakan kesiapan untuk mendukung penyediaan fasilitas listrik di kawasan shelter. Namun pemasangan jaringan listrik belum dapat direalisasikan karena bangunan utama shelter sebagai tempat tinggal pengungsi belum dibangun.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengelola dayah dan masyarakat setempat terkait kepastian penanganan jangka panjang pengungsi Rohingya, yang hingga kini masih hidup dalam keterbatasan dan ketidakpastian di bekas Kantor Imigrasi Lhokseumawe di Punteuet Kecamatan Blang Mangat.

Imbasnya, pihak Imigrasi Lhokseumawe kembali gagal untuk merenovasi gedung kantor tersebut.(Htc)

Sumber : ASPOST.ID

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *