Beranda / DAERAH / Pengungsi di Kantor Pemkab Bireuen: Pak Bupati Jangan “Cengeng”, Kami Masih Butuh Kepastian

Pengungsi di Kantor Pemkab Bireuen: Pak Bupati Jangan “Cengeng”, Kami Masih Butuh Kepastian

Bagikan ke :

Habaterkini.com – Bireuen, Pernyataan Bupati Bireuen, Mukhlis, yang mengaku kehilangan semangat bekerja akibat hujatan media, menuai respons dari para korban bencana yang saat ini masih mengungsi di halaman Kantor Bupati Bireuen.

Pernyataan tersebut disampaikan Mukhlis dalam acara buka puasa bersama wartawan di Pendopo Bupati Bireuen pada Rabu, 18 Maret 2026 lalu. Di hadapan insan pers, ia menyebutkan bahwa kritik yang bernuansa hujatan dapat memengaruhi semangat kerjanya.

“Kalau saya hilang semangat dalam bekerja akibat hujatan itu, maka masyarakat juga yang menjadi korban,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, M Amin, salah satu korban bencana yang kini tinggal di tenda pengungsian halaman kantor Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Bireuen, mengingatkan agar kepala daerah tetap fokus menjalankan tugas, khususnya dalam penanganan bencana. Ia menilai, hingga saat ini para pengungsi belum mendapatkan kepastian terkait penanganan lanjutan.

“Kami masih membutuhkan kehadiran dan perhatian bupati. Petisi yang kami ajukan belum ditandatangani. Kami hanya meminta dibangun hunian sementara (huntara) sambil menunggu hunian tetap (huntap),” ujar M Amin kepada Wartawan, Rabu (25/3).

Ia menambahkan, dalam situasi krisis dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dan tangguh. Kritik dari media, menurutnya, seharusnya dijadikan bahan evaluasi, bukan dianggap sebagai serangan.

“Wartawan menulis berdasarkan fakta di lapangan, bukan untuk menghujat. Kepala daerah harus menyikapi kritik secara positif,” tegasnya.

Selain itu, M Amin juga menyoroti pentingnya komunikasi langsung antara pemerintah daerah dan masyarakat terdampak. Ia menilai, tanpa dialog terbuka, kebijakan yang diambil berisiko tidak tepat sasaran.

“Bupati harus turun langsung berdialog dengan korban. Tanyakan kebutuhan kami di setiap desa. Informasi dari tim belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan,” katanya.

Ia mengungkapkan, para pengungsi telah bertahan selama dua minggu di tenda yang didirikan di halaman Kantor Bupati Bireuen tanpa kepastian solusi. “Selama belum ada kepastian, kami tidak akan pulang,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Arif Ramadhan, korban bencana lainnya. Ia menilai komunikasi pemerintah daerah masih lemah, sehingga masyarakat belum memahami secara jelas mekanisme bantuan yang tersedia.

Arif juga menyoroti sejumlah persoalan yang dinilai belum tertangani dengan baik, seperti polemik Dana Tunggu Hunian (DTH), belum diusulkannya pembangunan huntara, pendataan korban yang belum akurat, serta belum adanya langkah konkret menuju pembangunan hunian tetap (huntap).

“Menjadi pemimpin itu penuh risiko dan tantangan. Keberanian menghadapi kritik adalah bagian dari tanggung jawab. Pak Bupati jangan cengeng,” ujarnya.

Ia menegaskan, para pengungsi baru akan kembali ke desa masing-masing apabila huntara telah dibangun.“Percuma kami pulang sekarang jika hanya kembali ke tenda, bukan ke rumah yang layak,” pungkasnya.

Diketahui, hingga saat ini pemerintah Kabupaten Bireuen belum mengusulkan pembangunan huntara bagi korban bencana. Akibatnya, para pengungsi terpaksa bertahan di tenda, bahkan diperkirakan hingga perayaan lebaran. (Htc)

Sumber : rakyataceh.com

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *